Antara Mimpi dan Kenyataan
Ketika mentari mengitari alam dunia, ku bertekuk lutut dengan menyebutMu.
Sungguh tak kan bisa daun menyapa lembut, angin berdesis di telinga tanpa
keagungan-Mu. Aku pun beranjak dari tidur siang dan menyapa alam di balik
jendela kamarku. Dan ketika itu...
Kring...
Kring...
Suara penjual gorengan itu mulai memberi kode kepada pembeli, sebab setiap jam
3 ia mulai mengelilingi desa ke desa dengan sepeda tuanya. Miris rasanya,
ketika melihat ia mengayuh sepeda tuanya tanpa lelah sambil mampir ke sana-
sini untuk mendapatkan pundi- pundi uang.
"Gorengan... Gorengan... masih hangat, enak. Ayo Bu, Pak beli, murah-
murah."
Ia selalu berteriak kata- kata itu. Dengar-
dengar Ia adalah anak dari desa sebelah keluarga Pak Sony, namun sayangnya Ia
sudah menjadi tulang punggung keluarganya, sejak umur 10 tahun. Banu namanya,
ia memutuskan putus sekolah ketika kelas 4 SD. Lalu Ibu ku menyuruhku membeli
gorengan Banu.
"Nak bangun, tolong belikan Ibu gorengan 5000 ya!" (Teriak sang Ibu.)
" Iya Bu."
Aku kemudian berlari keluar memanggil penjual gorengan itu.
"Gorengan- gorengan!"
Kemudian, ia menuju ke rumahku. Tanpa basa- basi iya langsung menjualiku. Dalam
benakku, mulai membayangkan jika aku jadi dia... Apakah aku mampu menjalaninya?
Ini bukan waktunya mencari nafkah, tapi waktu untuk bersenang- senang di
lapangan bersama teman- teman. Dengan wajah yang kusam, kelihatannya Ia belum
makan siang dan lagi sedih keadaannya. Tapi, apakah Ia pernah bermimpi tuk
menjadi dokter lah, guru, atau lainnya? Rasa penasaran ini membuat aku
mengajukan pertanyaan padanya. Ia menangis ketika mendengar pertanyaan itu. Aku
merasa bersalah, tanpa ia jawab Banu langsung memberi uang kembalian dan mulai
mengayuh sepeda itu. Pikiranku mengatakan Ia tak punya tujuan atau berfikir hal
lain ya? Itu adalah tanyaku, yang penasaran atas jawabnnya.
Ke esokan harinya, ku jalani pagi ku seperti biasa beranjak ke
sekolah. Di perjalanan aku bertemu dengannya. Dan mengajaknya sekolah,
namun ia
berlari menjauh. Ku bingung dengan tingkahnya. Karena penasaran sepulang
sekolah, aku mencari dimana rumahnya. Ku lihat di balik jendela kayu
lapuk dengan di tutup kertas koran yang sedikit terbuka. Di balik itu,
tak di sangka dengan hati yang mulia dia merawat ibunya seraya membaca
buku-
buku bekas entah dari mana mungkin pemberian orang/ mengambilnya dari
pemulung,
serta banyak lembaran- lembaran gambarannya tertempel di dinding.
Sungguh
gambarannya sangat bagus, terlihat nyata meskipun hanya dari kertas dan
goresan
pensil biasa.
Kemudian di malam harinya, ku ikuti Ia. Ke mana lagi bocah
itu, tiada lelah hari- harinya. Setelah beberapa waktu berjalan, ia berhenti di
surau. Banyak anak- anak kecil di sana. Ternyata Ia menjadi guru mengaji anak
tersebut. Sungguh hal yang tak terduga dari dirinya. Di balik ke polosan dan
kelembutannya tersembunyi banyak talenta dan jiwa yang mulia.
Pagi nya, Banu membantu Pak Jono mencari pakan ternak di ladang.
Tanpa malu, dan takut tersengat sang surya ia segera menuju ladang
bersama Pak Jono. Di ladang sambil mencari rumput Pak Jono bertanya
" Banu, Kamu tidak ingin sekolah lagi?"
Dengan mata tertunduk ke bawah, dan berhenti memotong rumput ia menjawab
"Saya ingin sekolah, namun bagaimana dengan ibu saya? Banyak yang ingin
aku lakukan. Pernah ku bermimpi menjadi seorang guru dan diangkat oleh
keluarga yang kaya raya dan menyekolahkanku hingga sarjana. Namun ku
sadari itu adalah mimpi."
"Hmm, kasihan sekali hidupmu Nu Banu, Ya semoga saja semua mimpimu jadi
nyata. Semisalnya saya orang kaya, saya mau mengangkatmu jadi
anakku. Karena kamu orang yang telaten, sregep."
"Tapi, itu hanya mimpi Pak. Tak mungkin bisa terjadi."
Lalu, mereka segera melanjutkan pekerjaanya kembali. Hari semakin
siang, Banu dan Pak Jono segera kembali ke rumah. Selanjutnya Banu
pulang ke rumah untuk menyiapkan gorengan untuk nanti sore. Sebelum
itu,
"Banu, ini uang tidak seberapa. Tapi bisa buat makan, ada buku- buku
bekas anakku Raya bawaen. Dan ini tempe tahu milik Ibu bisa jadi tambah-
tambah penghasilan."
" Nggak usah repot- repot Pak, saya ikhlas membantu."
" Terimanen nak, hanya dengan ini saya membantu. Meskipun tidak seperti mimpimu."
" Iya Pak, saya sangat berterimakasih."
" Iya sama- sama Banu."
Ia kemudian pulang ke rumah membawa semua pemberian Pak Joni. Aku
melihat begitulah berkah orang yang berhati mulia. Tanpa pamrih
membantu orang. Pernah ku melihat dia dengan bijak menyelesaikan masalah
para warga mengenai persengketaan wilayah yang runyam. Sungguh luar
biasa.
Akhirnya Banu melanjutkan sekolah hingga lulus sarjana dengan kepandaiannya Ia menjadi Dosen di kampus terkenal di Surabaya. Dengan jeripayahnya, semua mimpi jadi kenyataan. Dia tak menyadari apakah mimpi atau nyata. Tapi, tak di pungkiri semua yang di lakukan adalah nyata. Dengan ke suksesannya semua sifat yang dimiliki tidak berubah. Ia membantu fakir miskin, dan membanggakan orang tuanya. Bahkan mampu memberikan rumah kepada orang tuanya. Ia sisihkan uang yang dimiliki untuk melayani masyarakat dan menjadi sahabat karibku yang sangat berharga.
😃😄 SELESAI😃😃
Bagus sekali, aku suka ceritanya 😍
BalasHapusiya makasih
HapusBagus sekali, aku suka ceritanya 😍
BalasHapusbagus banget cerpenya
BalasHapuslike
BalasHapus