Kamis, 30 Maret 2017

Antara Mimpi dan Kenyataan

          Ketika mentari mengitari alam dunia, ku bertekuk lutut dengan menyebutMu. Sungguh tak kan bisa daun menyapa lembut, angin berdesis di telinga tanpa keagungan-Mu. Aku pun beranjak dari tidur siang dan menyapa alam di balik jendela kamarku. Dan ketika itu... 

Kring... Kring... 
          Suara penjual gorengan itu mulai memberi kode kepada pembeli, sebab setiap jam 3 ia mulai mengelilingi desa ke desa dengan sepeda tuanya. Miris rasanya, ketika melihat ia mengayuh sepeda tuanya tanpa lelah sambil mampir ke sana- sini untuk mendapatkan pundi- pundi uang.

            "Gorengan... Gorengan... masih hangat, enak. Ayo Bu, Pak beli, murah- murah."

           Ia selalu berteriak kata- kata itu. Dengar- dengar Ia adalah anak dari desa sebelah keluarga Pak Sony, namun sayangnya Ia sudah menjadi tulang punggung keluarganya, sejak umur 10 tahun. Banu namanya, ia memutuskan putus sekolah ketika kelas 4 SD. Lalu Ibu ku menyuruhku membeli gorengan Banu.

          "Nak bangun, tolong belikan Ibu gorengan 5000 ya!" (Teriak sang Ibu.)
          " Iya Bu."
        
         Aku kemudian berlari keluar memanggil penjual gorengan itu. 

         "Gorengan- gorengan!"

         Kemudian, ia menuju ke rumahku. Tanpa basa- basi iya langsung menjualiku. Dalam benakku, mulai membayangkan jika aku jadi dia... Apakah aku mampu menjalaninya? Ini bukan waktunya mencari nafkah, tapi waktu untuk bersenang- senang di lapangan bersama teman- teman. Dengan wajah yang kusam, kelihatannya Ia belum makan siang dan lagi sedih keadaannya. Tapi, apakah Ia pernah bermimpi tuk menjadi dokter lah, guru, atau lainnya? Rasa penasaran ini membuat aku mengajukan pertanyaan padanya. Ia menangis ketika mendengar pertanyaan itu. Aku merasa bersalah, tanpa ia jawab Banu langsung memberi uang kembalian dan mulai mengayuh sepeda itu. Pikiranku mengatakan Ia tak punya tujuan atau berfikir hal lain ya? Itu adalah tanyaku, yang penasaran atas jawabnnya.

        Ke esokan harinya, ku jalani pagi ku seperti biasa beranjak ke sekolah. Di perjalanan aku bertemu dengannya. Dan mengajaknya sekolah, namun ia berlari menjauh. Ku bingung dengan tingkahnya. Karena penasaran sepulang sekolah, aku mencari dimana rumahnya. Ku lihat di balik jendela kayu lapuk dengan di tutup kertas koran yang sedikit terbuka. Di balik itu, tak di sangka dengan hati yang mulia dia merawat ibunya seraya membaca buku- buku bekas entah dari mana mungkin pemberian orang/ mengambilnya dari pemulung, serta banyak lembaran- lembaran gambarannya tertempel di dinding. Sungguh gambarannya sangat bagus, terlihat nyata meskipun hanya dari kertas dan goresan pensil biasa.  

        Kemudian di malam harinya, ku ikuti Ia. Ke mana lagi bocah itu, tiada lelah hari- harinya. Setelah beberapa waktu berjalan, ia berhenti di surau. Banyak anak- anak kecil di sana. Ternyata Ia menjadi guru mengaji anak tersebut. Sungguh hal yang tak terduga dari dirinya. Di balik ke polosan dan kelembutannya tersembunyi banyak talenta dan jiwa yang mulia.
           
        Pagi nya, Banu membantu Pak Jono mencari pakan ternak di ladang. Tanpa malu, dan takut tersengat sang surya ia segera menuju ladang bersama Pak Jono. Di ladang sambil mencari rumput Pak Jono bertanya

       " Banu, Kamu tidak ingin sekolah lagi?"
       Dengan mata tertunduk ke bawah, dan berhenti memotong rumput ia menjawab
       "Saya ingin sekolah, namun bagaimana dengan ibu saya? Banyak yang ingin aku lakukan. Pernah ku bermimpi menjadi seorang guru dan diangkat oleh keluarga yang kaya raya dan menyekolahkanku hingga sarjana. Namun ku sadari itu adalah mimpi."
       "Hmm, kasihan sekali hidupmu Nu Banu, Ya semoga saja semua mimpimu jadi nyata.           Semisalnya saya orang kaya, saya mau mengangkatmu jadi anakku. Karena kamu orang yang telaten, sregep."
       "Tapi, itu hanya mimpi Pak. Tak mungkin bisa terjadi."

       Lalu, mereka segera melanjutkan pekerjaanya kembali. Hari semakin siang, Banu dan Pak Jono segera kembali ke rumah. Selanjutnya Banu pulang ke rumah untuk menyiapkan gorengan untuk nanti sore. Sebelum itu, 

        "Banu, ini uang tidak seberapa. Tapi bisa buat makan, ada buku- buku bekas anakku Raya bawaen. Dan ini tempe tahu milik Ibu bisa jadi tambah- tambah penghasilan."
        " Nggak usah repot- repot Pak, saya ikhlas membantu."
        " Terimanen nak, hanya dengan ini saya membantu. Meskipun tidak seperti mimpimu."
        " Iya Pak, saya sangat berterimakasih."
        " Iya sama- sama Banu."

        Ia kemudian pulang ke rumah membawa semua pemberian Pak Joni. Aku melihat begitulah berkah orang yang berhati mulia. Tanpa pamrih membantu orang. Pernah ku melihat dia dengan bijak menyelesaikan masalah para warga mengenai persengketaan wilayah yang runyam. Sungguh luar biasa.
  
      Beberapa hari melihat dan mengikutinya, terusik jiwaku untuk mengubah kehidupannya. Ku menceritakan kepada kedua orang tuaku semua hal yang ku lihat dan ketahui selama ini. Mendengar cerita dan keinginanku. Kedua orang tuaku setuju untuk mengangkatnya menjadi adikku. Malam ini, kami sekeluarga mengunjungi rumah Banu yang sudah tak layak jadi rumah. Dengan penjelasan yang baik. Ayah ku mengatakan ingin mengangkat Banu menjadi anak dan mengajak ibunya untuk tinggal di rumah kami. Dengan diberi pemahaman sedemikian rupa akhirnya mereka mau menuruti permintaan kami.

      Akhirnya Banu melanjutkan sekolah hingga lulus sarjana dengan kepandaiannya Ia menjadi Dosen di kampus terkenal di Surabaya. Dengan jeripayahnya, semua mimpi jadi kenyataan. Dia tak menyadari apakah mimpi atau nyata. Tapi, tak di pungkiri semua yang di lakukan adalah nyata. Dengan ke suksesannya semua sifat yang dimiliki tidak berubah. Ia membantu fakir miskin, dan membanggakan orang tuanya. Bahkan mampu memberikan rumah kepada orang tuanya. Ia sisihkan uang yang dimiliki untuk melayani masyarakat dan menjadi sahabat karibku yang sangat berharga.



πŸ˜ƒπŸ˜„ SELESAIπŸ˜ƒπŸ˜ƒ